Rabu, 10 November 2010

Hwang Jini




episode 1
Gisaeng adalah salah satu profesi yang paling unik di Korea masa silam, dan salah satu kelompok yang cukup terkenal adalah kelompok penghibur Song Do pimpinan Im Baek-moo. Namun meski para anggotanya terlihat selalu tersenyum saat tampil, ternyata Song Do menyimpan berbagai masalah.

Salah satu yang paling memusingkan Baek-moo adalah niat mundur yang diutarakan salah satu gisaeng andalannya yang kini telah buta Hyeon-geum. Tidak ada yang tahu, Hyeun-geum sendiri ternyata memiliki seorang putri yang berhasil diungsikannya ke sebuah biara : Hwang Ji-ni.

Meski dididik oleh para biksu, Ji-ni sendiri dikenal memiliki kemauan yang sangat keras dan rela melakukan apa saja bila sudah menginginkan sesuatu. Hal terakhir yang dilakukannya adalah melakukan gerakan menyembah sebanyak 3000 kali supaya diijinkan untuk datang ke kota dan melihat keramaian. Harapannya cuma satu : bisa mengenali sang ibu yang tidak pernah dilihatnya.

Meski yang terakhir tidak bisa dilakukan, ada satu hal yang langsung membekas di ingatan Ji-ni : dengan mata kepalanya sendiri, ia akhirnya bisa melihat sekumpulan perempuan cantik yang melintas dengan pakaian indah nan harum. Sempat tidak sengaja melihat aksi kelompok gisaeng, Ji-ni nekat mengulangi sejumlah gerakan tarian sehingga berulang kali mendapat hukuman.

Di tempat lain, Baek-moo sedang menghadapi dilema karena saat diminta menghibur utusan dinasti Ming, di tengah pertunjukan kelompok penghibur istana pimpinan Mae-hyang tiba-tiba menyeruak masuk dan mengambil alih acara. Sadar kalau Mae-hyang takut posisinya direbut, Baek-moo tidak berkutik karena tahu kalau kekuatan kelompoknya masih belum sebanding dengan kelompok istana yang memiliki si kecil Bu-young sebagai penari potensial.

Satu-satunya harapan adalah merekrut gadis-gadis muda untuk dilatih menjadi gisaeng andalan, dan secara kebetulan Ji-ni (yang berhasil kabur dari biara) melihat pengumuman tersebut dan berniat mendaftar. Sempat ditolak masuk, aksi Ji-ni yang berusaha meniru tarian secara tidak sengaja dilihat oleh Baek-moo.

Sang pimpinan kelompok Song Do makin terpesona saat tahu kalau Ji-ni mampu menghapal gerakan tersebut dengan hanya sekali lihat. Baru saja berniat untuk menawarkan bergabung, muncul pimpinan biara yang langsung membawa Ji-ni pulang. Dasar keras kepala, gadis cilik itu menolak makan dan minum selama nyaris tiga hari saat berada dalam kurungan.

Niatnya cuma satu : bergabung dengan kelompok Song Do. Bingung dengan keteguhan hati Ji-ni, kepala biara mendatangi kediaman Hyeon-geum untuk memberitahu kondisi terakhir sang putri. Apes bagi mereka, pembicaraan tersebut terdengar oleh Baek-moo, yang langsung memerintahkan para pengawal untuk menjemput Ji-ni yang dikurung.

Saat tiba di biara, Ji-ni teryata sudah tidak ada sehingga Baek-moo mengira kalau Hyeon-geum yang telah menyembunyikan sang putri. Dipukuli didepan gisaeng lain karena tidak mau mengaku, sekonyong-konyong Ji-ni malah muncul didepan kediaman kelompok Song Do.

Baek-moo langsung tersenyum lebar, dan dengan tatapan wajah penuh arti menawarkan Ji-ni untuk bergabung. Sementara itu dibelakang mereka, Hyeon-geum yang terlihat begitu lemas terus berteriak dengan pilu supaya sang putri, yang tidak mengenalinya, menolak.

Episode 2 

Sudah tentu, niat tersebut malah membuat Ji-ni terpukul demi melihat ibu yang telah melahirkannya menolak untuk mengakui keberadaan gadis cilik itu. Hyeon-geum sendiri sempat meloloskan diri dari penjara untuk menemui Baek-moo sambil memohon sang guru untuk melepas putrinya, namun sudah tentu permintaan itu ditolak.

Dalam keadaan sedih, Ji-ni yang sedang berjalan-jalan di taman bertemu dengan salah satu orang kepercayaan Baek-moo. Dari pria berjanggut lebat itu, ia akhirnya tahu asal-usul percintaan terlarang Hyeon-geum dengan seorang pria dari kalangan ningrat yang menghasilkan dirinya hingga alasan kebutaan sang ibu. Keruan saja, gadis cilik itu makin merasa kehadirannya di dunia sama sekali tidak diinginkan.

Meski terlihat keras, namun Baek-moo ternyata sangat menyayangi Hyeon-geum sampai-sampai memohon pada pejabat untuk melepas salah satu gisaeng andalannya tersebut. Padahal, hukuman bagi pelanggaran yang dilakukan perempuan itu adalah dibuang.

Baek-moo tidak sadar, kenekatannya untuk menyelamatkan Hyeon-geum malah membuat sang pejabat berniat untuk menggeser posisinya sebagai pimpinan kelompok Song Do dan menggantinya dengan gisaeng senior lain. Dasar nekat, Hyeon-geum yang baru dilepaskan dari penjara memaksa untuk bertemu Ji-ni.

Dengan penuh cucuran air mata, anak dan ibu akhirnya bertemu muka secara langsung. Bisa dibayangkan, bagaimana perasaan Hyeon-geum ketika Ji-ni menyebut tidak akan pernah melupakan wangi tubuh perempuan itu dan dengan tatapan mata sendu memanggilnya dengan sebutan ibu. Tangis Hyeon-geum langsung meledak, ia tidak dapat menahan diri untuk memeluk sang putri yang begitu dicintainya.

Tahu kalau Ji-ni bakal memulai pelatihan sebagai calon gisaeng, Hyeon-geum bertekad untuk bisa berada disamping putrinya dan akhirnya pasrah dengan jalan hidup yang tidak bisa dihindari. Di awal ajaran, Baek-moo langsung menekankan satu hal penting bagi para calon penerusnya : melupakan keinginan untuk menjadi istri bagi seorang pria sekaligus melepas emosi.

Dengan mata terbelalak, Ji-ni menyaksikan sebuah pintu menuju dunia baru seakan dibukakan untuknya mulai dari kemewahan pakaian, keindahan musik, hingga tarian yang mampu menggetarkan siapapun yang menyaksikan. Untuk menguasai dua hal terakhir, Baek-moo mengajarkan pada murid-muridnya cara melatih pernapasan dengan menyelam selama jangka waktu yang telah ditentukan.


Tidak terasa beberapa tahun berlalu, dan Ji-ni telah menjelma menjadi gadis remaja yang cantik. Saat bersama rekan-rekannya berlatih di air terjun dibawah pengawasan Baek-moo, terjadi sebuah insiden dimana segerombolan pelajar yang salah satunya adalah pelajar tampan Kim Eun-hoo mengintip dan berusaha mencuri pakaian. Niat tersebut buyar karena Eun-ho terpesona oleh kecantikan Ji-ni. Kehadiran para pemuda pelajar yang tidak diundang itu kontan membuat para calon gisaeng histeris ketakutan, yang malah membuat mereka dihukum oleh Baek-moo karena dianggap melupakan aturan pertama yaitu menutupi emosi dari siapapun. Bisa ditebak siapa yang paling keras kepala : Ji-ni. Ia menolak ajaran itu meski untuk itu harus dihukum pukulan dengan kayu di bagian betis.

Tumbuh besar dengan Hyeon-geum disampingnya, Ji-ni langsung merengut ketika sang ibu berusaha membujuknya untuk meninggalkan Song Do dan hidup normal, ucapan yang telah disampaikan sejak mereka kembali bersama. Dengan wajah penuh keyakinan, ia menyebut sudah bahagia bisa hidup seperti sekarang dan tidak butuh pernikahan atau status.

Namun didalam hatinya, perasaan Ji-ni berkecamuk hebat yang kemudian dilampiaskannya lewat lukisan bambu nan artistik. Saat hendak membuang gambar yang disebut menunjukkan emosinya yang tidak stabil, gadis itu kembali bertemu dengan Eun-ho.
Episode 3

Hal serupa ternyata juga terjadi pada Ji-ni, yang bahkan berani membantah perkataan Baek-moo saat diajarkan cara menuangkan arak kedalam cangkir. Komentarnya yang menyebut latihan tata-krama tidak terlalu penting membuat murka sang guru, dan bisa ditebak hukuman apa yang diberikan : sabetan di kaki.

Di saat diam-diam masih memikirkan Eun-ho, nasib kembali mempertemukan mereka ketika pemuda yang juga begitu terpesona pada Ji-ni itu datang ke tempat kelompok So Dong bersama sang ayah yang adalah seorang pejabat terkemuka dan salah seorang sahabatnya. Dengan pikiran kalut, Eun-ho belakangan memutuskan untuk kembali ke rumah dengan alasan sedang memikirkan ibunya yang sendirian.

Di kediaman kelompok So Dong sendiri, Ji-ni mempunyai seorang sahabat bernama Gae-dong yang ceroboh dan kerap memecahkan guci. Untuk membujuk sang sahabat, perempuan itu nekat mengajaknya masuk ke kediaman salah seorang bawahan Baek-moo demi menggunakan alat rias. Berhasil membuat Gae-dong tersenyum lewat nama baru yang diberikan Ji-ni, keduanya akhirya ketahuan dan dihukum.

Pelajaran yang paling ditunggu Ji-ni yaitu menari akhirnya tiba, namun siapa sangka ia malah berulang kali dimarahi Baek-moo karena dianggap tidak luwes. Mendengarkan masukan sang guru dengan seksama, Ji-ni sampai nekat menggunakan arak mahal demi melatih kelenturan kakinya saat menari.

Masih merasa tidak dapat menemukan perasaan yang pas saat melangkahkan kaki, Ji-ni mengambil cara yang lebih ekstrim : menemui seorang pria untuk melatihnya berjalan diatas seuntai tali, keahlian yang justru biasanya didalami kaum pria.

Tidak cuma itu, Ji-ni bahkan nekat menyelinap keluar dari rombongan calon gisaeng yang sedang melihat-lihat keadaan pasar demi memenuhi janjinya tampil didepan umum dengan berjalan diatas seuntai tali sambil memegang kipas. Sayang, aksinya terhenti demi melihat kemunculan Baek-moo, dan saat terjatuh sambil ditahan Eun-ho yang berusaha menolong, bibir keduanya secara tidak sengaja bersentuhan.

Sentuhan bibir yang tidak sengaja itu membuat Eun-ho semakin penasaran untuk bertemu Ji-ni, dan untungnya ia mendapat bantuan dari Gae-dong, yang sengaja menuntun sang sahabat untuk bertemu pujaan hatinya. Menerima surat yang ditulis Eun-ho melalui perantara, dengan lantang Ji-ni menyebut kalau isi surat tersebut adalah jiplakan dari sebuah puisi terkenal.

Sempat merasa malu dan putus asa, semangat Eun-ho langsung bangkit saat si calon gisaeng menyebut kalau dirinya memiliki keahlian sebagai seorang penyair. Setelah suasana kaku cair, Eun-ho dan Ji-ni berjalan-jalan di pinggir sebuah air terjun. Rupanya, bambu yang pernah digambar calon gisaeng itu telah mengakar kuat di putra pejabat tersebut.

Episode 4  


Saat dipanggil, Ji-ni terkejut saat mendengar kalau Baek-moo ternyata sudah tahu dengan aksinya berjalan diatas tali saat berada di pasar. Namun yang lebih terkejut lagi adalah Baek-moo begitu mendengar apa alasan Ji-ni melatih aksi yang menurutnya tidak berguna itu : melatih konsentrasi terutama dibagian kaki.

Sadar kalau bakat Ji-ni sangat sayang untuk disia-siakan terutama setelah sekian tahun bersama, Baek-moo yang dipanggil oleh petinggi istana mengusulkan untuk diadakan kompetisi antara kelompok perempuan penghibur dimana si pemenang bisa menjadi kepala kelompok lain. Sudah tentu, usul tersebut membuat musuh bebuyutannya Mae-hyang marah besar.

Sikap permusuhan tidak cuma ditunjukkan oleh Mae-hyang tapi juga oleh Bu-young, muridnya yang kini telah tumbuh dewasa. Karena itu, mereka sangat terkejut mendengar ungkapan Ji-ni yang menyebut tidak perduli akan menang-kalah tapi berharap bisa mendapat hadiah utama dari putra mahkota. Sambil menunggu, Ji-ni mendapat pelajaran filosofi berharga tentang arti menjadi gisaeng dari Baek-moo.

Begitu kembali, Baek-moo langsung mempersiapkan murid-muridnya untuk kompetisi. Salah satu yang paling serius adalah Ji-ni, yang bahkan rela menolak bertemu dengan Eun-ho yang sudah memendam kerinduan. Lewat perantaraan Gae-dong, gadis itu menyebut tidak bisa bertemu Eun-ho lagi.

Penolakan tersebut membuat Eun-ho patah semangat, ia bahkan berani melawan perintah gurunya sehingga mendapat hukuman sabetan. Bahkan didepan pembantunya, pemuda itu sampai menitikkan air mata. Keruan saja, Ji-ni yang mendengar hal itu merasa bersalah dan memutuskan untuk menemui Eun-ho sambil membawa harpanya.

Keduanya menghabiskan waktu seharian bersama-sama, Ji-ni memetik harpa sementara Eun-ho melukis sosok gadis itu yang sedang bermain musik. Ketika kembali, kebahagiaan Ji-ni bisa dirasakan oleh sang ibu Hyeun-geum. Mampu merasakan kalau sang putri sedang jatuh cinta, wajah Hyeun-geum berubah kuatir ketika Ji-ni mulai menanyakan soal ayahnya dan apakah bisa seorang gisaeng tetap menghibur sekaligus menjadi istri seorang pria.

Tahu akan betapa pekanya perasaan Hyeun-geum, Ji-ni berpesan pada Gae-dong untuk tidak membocorkan perasaan bahagianya pada sang ibu. Namun dasar Gae-dong, ia malah tidak sengaja membocorkan rahasia tersebut kepada Hyeun-geum saat dirinya dipanggil menghadap.

Kepada asisten Baek-moo yang kerap melindunginya, Hyeun-geum memohon sang sahabat untuk menyelidiki ketulusan pemuda misterius yang telah mencuri hati Ji-ni. Di tempat lain, Eun-ho yang langsung terpesona melihat tarian Ji-ni meminta gadis itu untuk tidak menari bagi orang lain selain dirinya.

Ketika berjalan pulang, terjadi dua hal pada diri Eun-ho. Yang pertama adalah pertemuannya dengan asisten Baek-moo yang menanyakan sejauh mana keseriusan hubungannya dengan Ji-ni, sementara yang kedua adalah percintaannya yang diketahui oleh ibunya. Yang terakhir cukup fatal, pasalnya sang ibu memutuskan untuk melabrak Ji-ni.

Episode 5


Geram mendengar Ji-ni berani membantah bahkan menyerang balik dengan mengatakan bahwa Eun-ho yang lebih dulu mengiriminya puisi, ibu Eun-ho langsung mengambil sebaskom air panas dan menyiramkannya ke Ji-ni. Siapa sangka, muncul Baek-moo yang langsung melindungi Ji-ni dengan tubuhnya.

Ji-ni langsung mencucurkan air mata melihat sang guru tanpa malu-malu bersimpuh dihadapan kaki ibu Eun-ho, dan yang lebih menyakitkan lagi, pemuda yang mulai disukainya itu hanya bisa berdiri mematung tanpa berbuat apa-apa. Saat mengobati luka bakar di punggung Baek-mo, Ji-ni mendapat nasehat berharga tentang kehidupan seorang gisaeng.

Sudah tentu, yang paling kuatir dengan keadaan Ji-ni adalah ibunya Hyeon-geum, yang sadar kalau cinta putrinya dan Eun-ho tidak cukup kuat. Belakangan, ia dipanggil oleh Gae-yeon tunangan Eun-ho yang putri petinggi wilayah sekaligus gadis yang pernah ditemui Ji-ni di perpustakaan, yang memberi ultimatum supaya insiden yang terjadi tidak sampai di kuping sang ayah.

Melihat muridnya terduduk sedih sambil menangis, Bak-moo mendatangi Ji-ni dan mengajarinya sebuah tarian sulit untuk mengatasi rasa cinta pertamanya. Sementara itu di kediaman kelompok, Mae-hyang melatih murid-muridnya dengan keras sambil memperhatikan Bu-yong yang memang memiliki bakat besar dalam hal menari.

Ambisinya cuma satu : ia tidak ingin murid kesayangannya itu kalah bersaing dengan Ji-ni yang sudah berani menyebut impiannya untuk bisa mendapatkan hadiah dari pihak kerajaan. Namun, yang paling diharapkan Mae-hyan adalah supaya Bu-yong bisa memikat Byeok Gae-soo, kerabat kerajaan yang memiliki wawasan luas dan diduga bakal menjadi ketua dewan juri kompetisi antar kelompok penghibur.


Dasar sudah kehilangan akal sehat, Eun-ho nekat mendatangi kediaman kelompok Song Do untuk bertemu Ji-ni setelah sebelumnya menitipkan surat perpisahan ke Gae-yeon. Untungnya, kenekatan itu bisa diatasi oleh pengawal Baek-moo yang juga bertugas menjaga Hyeon-geum. Kenekatan Eun-ho ternyata harus dibayar mahal. Saat pulang, ia mendapati sang ibu telah memerintahkan pengawal untuk memukuli Duk-pal pria yang biasa mengiringinya. Kejadian itu membuat mata Eun-ho semakin terbuka akan hidup tentang status yang berlaku di Korea, dan merasa semakin sedih dengan kenyataan.

Melihat kesungguhan hati sang majikan, Duk-pal luluh dan menyebut siap mengantarkan surat kepada Ji-ni. Dasar nekat, Ji-ni memutuskan untuk menemui Eun-ho yang diharapkannya untuk terakhir kali. Saat berjalan menuju tempat yang disepakati, betapa terkejutnya Ji-ni melihat jalanan telah ditaburi bunga yang indah dan di pondok, ada sebuah tali yang diujungnya terdapat cincin yang menunjukkan keseriusan cinta Eun-ho.

Episode 6


Kepada Ji-ni, Eun-ho meminta maaf atas perlakuan ibunya dan meminta gadis yang dicintainya itu mengerti akan penderitaan sang ibu yang selama hidupnya memendam kepedihan. Sambil meminta Ji-ni menunggunya, Eun-ho berjanji akan memberi pengertian supaya bisa meminang Ji-ni.

Eun-ho tidak sadar kalau posisinya justru semakin berbahaya, pasalnya Gae-yeon yang sudah tidak tahan lagi akhirnya menyampaikan surat yang ditulis pemuda itu pada ibunya. Bisa ditebak, niat Eun-ho untuk melamar Ji-ni langsung mendapat tentangan dari sang ibu yang tanpa sungkan-sungkan menghina status Ji-ni sebagai seorang perempuan penghibur.

Di kediaman kelompok Song Do, akhirnya diumumkan bahwa kompetisi perempuan penghibur akan digelar dalam waktu dekat namun sebelumnya mereka harus terlebih dahulu menghibur para tamu di kediaman gubernur wilayah. Sudah tentu selain aroma persaingan yang makin tinggi, masing-masing peserta juga merasa cemas.

Dipanggil oleh istri pejabat Kim yang tak lain adalah ibu Eun-ho, Baek-moo kembali dipersalahkan atas kekisruhan yang terjadi pada Eun-ho. Siapa sangka meski dianggap berstatus sebagai perempuan dari kasta yang lebih rendah, pimpinan kelompok Song Do itu mampu memberi jawaban telak yang langsung membuat ibu Eun-ho terdiam.

Di ibukota, Bu-yong secara mengejutkan berani mengkritik pilihan vas bunga Byeok Gae-soo, kerabat sekaligus orang kepercayaan raja yang dikenal memiliki perasaan seni yang tinggi. Langsung terkesan dengan kecerdasan gadis muda itu, Gae-soo langsung mengiyakan ketika Bu-yong meminta supaya ia ditunjuk untuk melayani pria itu saat pesta. Siapa sangka, semua ternyata merupakan rencana Bu-yong untuk memenangkan persaingan.

Dengan hati yang kalut karena memikirkan kompetisi dan Eun-ho yang dicintainya, Ji-ni memeluk Hyeon-geum yang sedang mencarinya. Saat keduanya berbincang-bincang dengan santai, Ji-ni menyebut siap menempuh konsekuensi dari pilihan hidupnya. Sadar kalau sang putri sedang gundah, Hyeon-geum mengingatkan Ji-ni akan cinanya dan Eun-ho yang begitu lemah.

Kegundahan hati Ji-ni juga bisa dirasakan oleh salah seorang calon gisaeng Sum-sum, yang sebenarnya juga punya masalah yang tak kalah pelik. Demi mengalihkan pikiran, gadis itu mengajak Ji-ni untuk menari bersama. Siapa sangka, lewat tarian keduanya sama-sama berhasil mengeluarkan air mata meski itu tidak berarti kegundahan berakhir.

Niat Eun-ho untuk menjadikan istri semakin bulat, bahkan sang ibu yang telah berusaha menasehatinya secara baik-baik tidak lagi didengarkan. Meski tahu kalau bakal kehilangan posisi terhormat, ia rela melepas semuanya demi bersama Ji-ni. Tidak cuma itu, ia bahkan menemui Gae-yeon, meminta maaf, sambil menyebut tidak bisa bersama sang tunangan lagi.

Memanggil Ji-ni untuk menemuinya, Gae-yeon menyebut siap menerima gadis itu sebagai istri kedua walau hatinya sakit. Siapa sangka, tawaran itu ditolak Ji-ni yang menyebut bahwa hati tidak bisa dibagi. Sama-sama terluka oleh kenyataan hidup dimana status memegang peranan utama, Gae-yeon dan Ji-ni berpisah dengan hati yang sama-sama panas.

Ji-ni sendiri bukannya tidak mengerti akan hancurnya perasaan Geun-yeon yang tidak diterima oleh pria yang dicintainya. Kembali menemui Eun-ho sambi meminta pemuda itu mau melepaskan cintanya supaya tidak terjerumus dalam kesulitan, jawaban Eun-ho membuat dirinya semakin menghadapi dilema.

Episode 7

Baek-moo yang pertama kali diberitahu mengira kalau Ji-ni hanya emosi sesaat, namun wajahnya langsung berubah ketika sang murid memperlihatkan tali harpa yang telah putus. Menyebut kalau hanya ingin menjadi pelayan biasa, Ji-ni terkejut ketika mendengar Baek-moo menyetujui permintaannya.

Namun sebagai syaratnya, Ji-ni harus menghadiri pesta yang digelar oleh gubernur wilayah (yang juga ayah Gae-yeon) dimana banyak pejabat hadir. Selain menari, ia juga harus melepas tali rambutnya, yang menandakan penyerahan malam pertama seorang gisaeng pada pria. Sudah tentu permintaan itu ditolak, namun Baek-moo dengan tegas mengatakan bahwa bila Eun-ho serius, maka pemuda itu akan berusaha untuk bersaing mendapatkan Ji-ni.

Meski terlihat kejam, Baek-moo ternyata punya maksud baik yaitu menguji sejauh mana Eun-ho mencintai Ji-ni. Hyeon-geum sendiri sempat protes mendengar perlakuan yang diberikan pada sang putri, namun hanya bisa terdiam karena penjelasan yang disampaikan Baek-moo sangat masuk akal.

Bisa dibayangkan, bagaimana sedihnya Ji-ni ketika mendengar tubuhnya dijadikan taruhan (terutama setelah dengan mata kepala sendiri melihat bagaimana Eun-ho berusaha keras belajar menjadi orang biasa). Yang paling merasa bersalah adalah Hyeon-geum, yang sambil memeluk Ji-ni meminta maaf karena sang putri dilahirkan dari rahim seorang gisaeng.

Tidak ingin Ji-ni bernasib sama dengannya, Hyeon-geum dan pria yang biasa mendampinginya memutuskan untuk menemui Eun-ho dan memberitahu apa yang bakal terjadi. Dengan wajah yang tegas, Eun-ho menolak menjadikan Ji-ni sebagai selir, salah satu opsi yang paling mungkin dilakukan, dan menyebut bakal sekuat tenaga membujuk kedua orangtuanya untuk menerima gadis itu sebelum semuanya terlambat.

Kekuatiran Eun-ho makin menjadi ketika mendengar kabar dari Gae-dong kalau Ji-ni dan beberapa calon gisaeng lainnya pindah ke tempat terpencil untuk berlatih keras. Rupanya Baek-moo tidak main-main, ia benar-benar menggembleng murid-muridnya dengan sejumlah latihan berat yang bahkan mampu membuat Mae-hyang ketar-ketir.

Kekuatiran Mae-hyang sendiri cukup beralasan, rupanya Baek-moo bakal melakukan tarian burung bangau yang diciptakan oleh guru mereka dan dijamin bakal membuat siapapun yang melihat terpukau. Bu-young yang mendengarkan penuturan gurunya semakin kuatir, apalagi ketika diberitahu kalau tarian legendaris tersebut bisa mengancam keinginan mereka memenangkan kompetisi.

Dasar licik, Mae-hyang memutuskan untuk mencuri start dengan menampilkan tarian murid-muridnya didepan para pejabat yang salah satunya adalah Gae-soo. Siapa sangka, aksi tersebut hanya mendapat tanggapan dingin dari Gae-soo yang dikenal memiliki cita rasa seni tinggi sambil menyebut bahwa aksi tersebut sama sekali tidak menarik.

Sementara itu di pinggir air terjun, latihan keras ala Baek-moo masih terus berlanjut. Meski sangat menderita, Ji-ni menjadi satu-satunya murid yang masih bertahan dalam posisi digantung dengan keringat yang semakin deras menetes sambil terus melakukan gerakan bangau yang diminta sang guru.

Berkat nasehat sang guru, Bu-young akhirnya sukses memikat Gae-soo namun sayang kesalahan fatal dilakukan gadis itu. Saat si mangsa telah berhasil ditangkap, Bu-young malah menyampaikan permintaan yang membuat Gae-soo berkata dengan pedas kalau dirinya paling benci dengan perempuan yang haus kekuasaan.

Episode 8

Bisa dibayangkan, bagaimana kagetnya gubernur mendapatkan surat dari Eun-ho. Meski telah mengalah dengan menyebut kalau Eun-ho boleh memiliki Ji-ni namun tetap harus menikahi Gae-yeon, pria itu tidak berkutik ketika EUn-ho menolak dan menyebut kalau hanya Ji-ni yang ada dihatinya.

Tidak kehabisan akal, gubernur malah memerintahkan para pengawalnya untuk menangkap dan mengeksekusi Ji-ni. Untungnya di saat genting, muncul Baek-moo yang berhasil membuat para pengawal mengurungkan niat. Tidak cuma tegas, Baek-moo ternyata juga sangat mahir berdiplomasi karena pendapatnya berhasil mempengaruhi gubernur. Saat kembali, pimpinan kelompok Song Do itu kembali menantang Ji-ni untuk melepas cintanya.

Rupanya Baek-moo punya tujuan lain lewat latihan berat yang diberikannya pada murid-murid. Sadar kalau tarian bangau sangat sulit hingga bahkan dirinya yang telah berlatih puluhan tahun tidak mampu menguasai, Baek-moo berharap bahwa gemblengannya paling tidak mampu membuat para calon gisaeng terutama Ji-ni mampu menari dengan cara yang berbeda.

Tidak sadar kalau ibu Eun-ho menyiapkan siasat licik untuk memisahkan dirinya dan pria yang dicintainya itu, Ji-ni kembali ke biara tempat ia dibesarkan untuk melakukan penyembahan sebanyak tiga ribu kali seperti yang telah dilakukannya saat kecil. Tidak cuma itu, biksu yang telah membesarkannya dengan disiplin bahkan memberi Ji-ni nama baru : Myeong-wol.

Kembali menghadap untuk memuluskan niatnya menikahi Ji-ni, Eun-ho diberitahu bahwa ia harus mendapat ijin dari kedua orangtuanya yang sedang berada di ibukota kerajaan. Rupanya, itu bagian dari strategi gubernur demi memuluskan kehadiran Ji-ni di pesta. Setelah mendengar penuturan itu, Baek-moo cuma bisa termenung karena sadar kalau keadaan bakal menjadi lebih sulit bagi Ji-ni dan Eun-hoo.

Ambisi Bu-young akan kekuasaan yang begitu besar akhirnya membuat gadis itu kena batunya. Berdandan cantik dan mengira bakal kembali dipertemukan dengan Gae-soo, ia sangat terkejut saat tahu bakal memberikan malam pertamanya pada pria tua pemabuk. Rupanya, itulah hukuman yang diberikan oleh Mae-hyang atas tindakan gegabah sang murid yang dianggapnya sebagai pengkhianatan.

Di kediaman kelompok So Dong sendiri, para calon gisaeng tidak bisa tidur karena berdebar memikirkan apa yang bakal terjadi saat rambut disasak tinggi, yang berarti kalau mereka telah memberikan malam pertama pada seorang pria, keesokan harinya. Siapa sangka, di malam itu terjadi tragedi : Sum-sum yang sudah tidak sanggup lagi menahan kepedihan hati gantung diri.

Bisa dibayangkan, bagaimana besarnya pukulan mental yang dirasakan oleh murid-murid Baek-moo, yang sebetulnya juga terpukul namun terpaksa mengambil keputusan drastis. Pemandangan memilukan dirasakan oleh Jang-yi, pria yang terus mencintai Sum-sum tanpa syarat, yang harus membopong tubuh gadis yang dicintainya yang masih memegang erat pita yang diberikan.

Melihat nasib tragis yang menimpa sahabatnya, Ji-ni mulai mmpertanyakan apa arti cinta. Namun apapun yang terjadi, semua tetap harus dijalankan dan para calon gisaeng harus tetap hadir di pesta untuk menghibur para pejabat. Keadaan semakin panas setelah Eun-ho yang baru sadar kalau dirinya dibohongi bergegas pulang untuk menemui Ji-ni.

Tidak cuma harus melihat Ji-ni menari dihadapan para pembesar yang kebanyakan telah berusia lanjut, pukulan terberat didapat Eun-ho saat melihat sang ayah justru tergiur pada Ji-ni dan berniat mengambil tali rambut (yang juga berarti berhak untuk menghabiskan malam pertama bersama) Ji-ni.

Episode 9

Begitu Eun-ho maju, Baek-moo langsung menyerahkan sebilah pedang karena sebelumnya telah menyebut kalau siapapun yang keberatan maka ia harus berduel dengan pria yang berhasil mendapatkan pita rambut calon gisaeng pilihannya. Dalam keadaan terguncang, Eun-ho meletakkan pedangnya dan pergi.

Bisa dibayangkan, bagaimana pedihnya hati Ji-ni melihat pria yang dicintai tidak membelanya sehingga tidak ada pilihan lain selain menyerahkan harta yang paling berharganya pada ayah Eun-ho. Beruntung di malam hari, Ji-ni ditolong oleh Hyeon-geum, yang memasukkan obat tidur ke minuman pejabat Kim.

Di tempat lain, Yi Saeng yang terus mendampingi Hyeon-geum juga mendatangi Eun-ho dan memintanya untuk membawa Ji-ni lari. Seperti yang bisa ditebak, baik Eun-ho maupun Ji-ni sama-sama menolak karena sadar kalau cinta mereka tidak bisa dipertahankan. Namun, pikiran Eun-ho berubah saat diberitahu kalau Ji-ni telah mempertaruhkan semua demi dirinya.

Dasar apes, saat berusaha melarikan diri Eun-ho malah dicegat sang ibu, yang menyebut kalau sang putra boleh pergi setelah dirinya mati. Rupanya, rencana tersebut ketahuan akibat pemberitahuan Gae-dong yang diiming-imingi bakal dipromosikan jadi gisaeng oleh Baek-moo. Nama terakhir sendiri cuma memikirkan satu hal : ia tidak ingin Ji-ni hidup menderita sebagai rakyat jelata.

Keruan saja, Eun-ho hanya bisa duduk bersimpuh ditengah derasnya hujan dan begitu pula dengan Ji-ni, yang duduk sambil gemetar dibawah pohon demi menanti kehadiran pria yang dicintainya. Dengan susah-payah, Yi Saeng berhasil menemukan gadis malang itu, yang akibat demam tinggi akhirnya pingsan.

Beruntung bagi Ji-ni, pejabat Kim tidak menyadari apa yang terjadi karena Baek-moo mampu memberikan siasat jitu meski untuk itu ia dihukum berat oleh sang guru. Namun nasib malang dirasakan oleh Eun-ho, yang akhirnya muntah darah dan jatuh sakit akibat tidak mampu menahan rasa perih dihatinya.


Tidak memperdulikan kondisi tubuhnya, Eun-ho mendatangi kediaman kelompok Song Do dan bertemu Ji-ni. Sama-sama merasakan penderitaan yang begitu hebat, Ji-ni yang sudah kadung sakit hati meminta Eun-ho untuk tidak lagi datang menemuinya sambil mengembalikan cincin yang pernah diberikan pemuda itu.

Pukulan batin yang didapat membuat penyakit Eun-ho makin parah, sambil bergumam ia mengutarakan penyesalan telah bertindak gegabah dengan melontarkan janji yang tidak bisa ditepati pada perempuan yang dicintainya. Sadar kalau umurnya tidak lama lagi, Eun-ho minta Duk-pal mengantarnya ke tempat dimana ia kerap bertemu Ji-ni dan sambil meneteskan air mata, pemuda itu akhirnya meninggal sambil membawa sejuta kepedihan.


Membawa peti mati berisi Eun-ho melewati kediaman kelompok Song Do, secara mengejutkan gerobak tidak mau bergerak. Rupanya, arwah Eun-ho ingin mengucapkan selamat tinggal pada Ji-ni untuk terakhir kalinya. Dengan air mata bercucuran, Ji-ni mengalungkan jubahnya ke peti mati sambil mengucapkan salam perpisahan pada Eun-ho, pria yang telah mengubah hidupnya. Reaksi yang diberikan oleh para gisaeng binaan Baek-moo sangat mengejutkan, mereka memutuskan untuk melawan perintah sang pimpinan, menolak untuk berpartisipasi dalam turnamen dan ingin berkabung atas hilangnya cinta sejati salah seorang rekan mereka. Ditemui Baek-moo saat sedang mendoakan arwah Eun-ho, Ji-ni melontarkan niat yang cukup mengejutkan. Selain mengaku siap hidup sebagai gisaeng sesuai dengan yang diinginkan, ia berjanji untuk tidak akan pernah memberikan hatinya siapapun dan bakal membalas dendam para kaum bangsawan dan Baek-moo karena telah membuatnya patah hati.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar